Gagal Survei ke Kampung Karapyak

Perjalanan kali ini saya dan teman-teman dari Kartala akan melakukan survei ulang sebuah Kampung di perbatasan Purwakarta dan Karawang yaitu Kampung Karapyak, sebelumnya Kang Dedi sudah pernah berkunjung kemari untuk sekedar melihat kondisi masyarakat disana. Kampung ini dihuni oleh 20 KK serta terdapat 25 anak usia sekolah. Masyarakat di kampung ini mayoritas berprofesi sebagai petani sedangkan yang lainnya menjadi buruh angon domba. Di kampung ini tidak terdapat aliran listrik negara dan apabila malam hari tiba sudah pasti gelap menemani mereka.

Bismillah...

Pukul 9.30 pagi saya memutar gas dari rumah saya menuju kediaman Mang Rama di Sadang, Purwakarta. Jalanan sedikit ramai dan macet dimana-mana karena memang hari ini tanggal merah, banyak orang pergi berlibur. Hampir 2 Jam saya melewati jalanan Bekasi-Cibitung-Cikarang-Karawang-Cikampek kemudian saya memutuskan berhenti di salah satu Mesjid di daerah Cikampek untuk melaksanakan Shalat Jumat. Sehabis shalat Jumat, saya langsung segera menuju ke tempat Mang Rama. Akhirnya pukul 13.30 saya sampai di kediaman beliau. Ternyata disana sudah ada rekan-rekan saya yaitu Um Denny dan Enes yang mau berlibur di Saung Mang Iwan. Mereka memang tidak ikut kami kami survei karena memang mereka sudah jauh-jauh hari ingin menikmati bermalam di saung yang tepat di belakang Situ Wanayasa itu.

Panas matahari waktu itu memang terasa terik sekali, kami pun disuguhkan minuman es oleh istri Mang Rama Uh segernya.... Tak lama berselang hidangan Mie Ayam pun datang, memang rejeki anak soleh...hehehe. Kami pun menyantap mie ayam tersebut dengan nikmat sekali...emang enak mie ayamnya apalagi gratis...Nuhun Mang. Selesai makan di grup WA sudah ada pesan bahwa Mang Indra dan Kang Dedi tidak ke tempat Mang Rama melainkan langsung menuju TKP. Ok kami pun bergegas menuju TKP sedangkan Um Denny dan Enes menuju kediaman Mang Iwan di Wanayasa. Setengah jam perjalanan kami pun tiba disebuah jalan menuju Kampung Karapyak. Terlihat sebuah portal dengan tulisan Galian ditutup, kemudian kami pun menyusuri jalan tersebut. Baru masuk 100 meter kami pun menyerah dan tak sanggup membawa kuda besi kami dikarenakan kondisi jalan yang teramat parah dengan tanah liat yang pekat sekali apalagi baru saja kawasan itu diguyur hujan. Oiya jalan ini memang jalan akses truk-truk pengangkut tanah yang memang kebetulan lagi off dikarenakan lagi musim hujan. Kuda besi pun kami taruh di pos penjaga dan terlihat motor Mang Indra dan Kang Dedi sudah terparkir disana.
Mie ayamnya sungguh menggoda
Jalannya parah masbro
Kebo aja gak sanggup 
Lebih baik ditinggal
Tampaknya mereka sudah duluan berjalan kaki, kami pun segera menyusul mereka dengan mengikuti jejak kaki, ya mudah-mudahan itu memang jejak kaki mereka karena memang tidak ada sinyal disini. Hampir 2 km kami berjalan menyusuri jalanan yang penuh dengan tanah liat yang pekat sekali, kami pun tiba di areal persawahan dimana terdapat sungai disana. Terlihat arusnya sangat deras sekali, dikarenakan sebelumnya hujan turun di daerah sini. Kami tak melihat ada jembatan disana, akhirnya pun kami mencari jalan yang lain lagi, dikejauhan terdengar sayup-sayup suara yang memanggil kami, yup benar itu suara Kang Dedi yang memanggil kami. Mereka berjalan menuju arah kami, dan ternyata mereka kembali karena jembatan yang biasa untuk menyebrang terbawa arus...walah. Kami pun memutuskan untuk beristirahat di sebuah saung di areal persawahan. Kami pun melepas lelah dan dahaga serta menikmati logistik yang dibawa Mang Indra yang selalu menemani setiap Perjalanan Cahaya.
Tanahnya menempel di sepatu
Jalan terus masbro
Sejauh memandang hanya ada gundukan tanah
Tuh kan banjir...
Sponsor Perjalanan Cahaya Made In Mang Indra
Ketika asiknya menikmati logistik yang dibawa, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Ternyata mereka adalah para petani yang hendak pulang kerumah. Kami pun menghampiri mereka dan menanyakan beberapa hal mengenai Kampung Karapyak. Hanya sedikit informasi yang kami dapat serta masih ada simpang siur mengenai masyarakat disana atas tanah yang ditempati dan status kependudukan mereka.
Sedang menanyakan mengenai Kampung Karapyak

Kebo penuh dengan tanah
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, matahari pun sudah mulai terbenam, kami memutuskan untuk pulang. Setengah jam berjalan dengan langkah kaki yang berat akibat tanah yang menempel di sepatu, akhirnya kami pun tiba di tempat kami menaruh kendaraan. Lalu kami bergegas melewati 100 meter jalan tanah, tampak Kang Dedi sangat lelah sekali, karena ban motornya hanya berputar saja. Kami pun tiba dijalan utama, saya menyempatkan membersihkan tanah yang menempel di motor. Akhirnya kami berpisah untuk pulang, Mang Rama menuju arah Sadang, Purwakarta sedangkan saya, Mang Indra dan Kang Dedi menuju Karawang. Di tengah jalan Kang Dedi menawarkan untuk mampir kerumahnya sebentar untuk sekedar ngopi. Dengan cuaca yang gerimis-gerimis mengundang saya pun mengiyakan untuk mampir sejenak. Sampai di rumah beliau dan ketemu dengan istrinya, yang sudah saya kenal sebelumnya di acara Perjalanan Cahaya yang terdahulu. Kopi hitam disuguhkan menemani obrolan ketika itu dan semangkuk Pop Mie yang menbuat perut menjadi terisi...Nuhun Kang. Tak terasa mengobrol, waktu menunjukkan pukul 19.30, saya pun berpamitan untuk segera pulang. Tepat pukul 21.00 saya pun sudah sampai di rumah tercinta.
Previous
Next Post »