Perjalanan Cahaya : Suri Tauladan Di Lebak Sangka

Pukul 7 pagi saya mulai memutar gas dari rumah saya menuju Cawang untuk bertemu salah satu volounter wanita yang bernama Mba Dewi yang kebetulan ingin membonceng saya. Sampai di Cawang saya pun menunggu Mba Dewi datang yang ternyata masih berada di Stasiun Cawang. Setelah menunggu selama 5 menit Mba Dewi pun datang dan kami pun segera berangkat menuju Desa Lebak Sangka, Banten untuk mengikuti kegiatan Perjalanan Cahaya Ekspedisi Lebak Sangka yang kali ini di motori oleh Serdadu Cahaya.

Saya pun memacu kendaraan dengan santai melewati Cibinong-Dramaga-Leuwiliang-Jasinga-TKP dengan susana jalan yang cukup ramai dan terdapat kemacetan di beberapa titik. Ketika melewati jalan Jasinga kami pun bertemu rekan-rekan yang sedang beristirahat disebuah warung di pinggir jalan. Saya pun bergabung dengan mereka dan melanjutkan perjalanan menuju TKP. Di tengah perjalanan menuju lokasi motor salah satu rekan yaitu Mang Rei mengalami masalah brebet dan terpaksa harus distep untuk bisa terus jalan untuk melewati jalan yang naik turun. Di pecabangan jalan kami pun belok kiri menuju arah pondok pesantren La Tansa. Selanjutnya kami pun tiba di Banjar Irigasi dimana terdapat Indomaret disebelah kiri. Kami pun beristirahat sebentar sambil membeli makanan dan minuman untuk melepas haus dan lapar. 
Rekan-rekan lagi istirahat di warung kopi 
Para riders sedang menikmati jalan yang asoy geboy
Sampai di Indomaret untuk istirahat sejenak
Jam menunjukkan pukul setengah 12 siang akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi. Dari indomaret ini kita hanya lurus mengikuti jalan yang ada di seberang indomaret. Kami pun melewati jembatan yang dibawahnya terdapat Sungai Ciberang dengan arusnya yang sangat deras. Sungai Ciberang ini memang diperuntukkan untuk penggiat hobi Rafting. Melewati jembatan kami pun sudah disuguhi jalanan aspal yg sudah rusak dengan panorama sawah di pinggir jalannya. Lambat laun jalan yang sebelumnya datar terganti oleh jalan yang menanjak beralaskan batu-batu kali yang tersusun rapi. Kondisi jalanan yang naik turun dan berbatu membuat kami lebih berhati-hati apalagi semalam hujan turun mengguyur kawasan ini sehingga membuat jalan semakin licin. Roda terus berputar melewati bebatuan dan tanah yang becek dan akhirnya pun kami sampai di Balai Desa setempat yang memang diperuntukkan untuk kami beristirahat.
Jembatan yang dilewati dengan Sungai Ciberang dibawahnya
Jalanan mulai berbatu dan tanah
Motor BMW blusukan nih
Tiba di Balai Desa Lebaksangka
Setelah tiba di Balai Desa rekan-rekan segera menurunkan barang bawaan yang nantinya akan dibagikan untuk anak-anak dan keperluan mengaji mereka. Setelah barang-barang telah diturunkan kami pun segera membawanya ke tempat mengaji/kobong yang berada tak jauh dari Balai Desa ini.Ketika pertama kali tiba di kobong ini kami pun disambut dengan anak-anak yang menyalami kami satu persatu. Semua barang pun sudah terkumpul kami pun segera mengepack barang-barang yang akan dibagikan ke anak-anak. Sedangkan rekan-rekan yang berada diluar bercengkrama dengan yang lainnya utuk mengenal lebih dekat karena banyak juga yang baru pertama kali mengikuti kegiatan ini. 
Rekan-rekan sedang membawa barang menuju lokasi
Proses Pengepackan barang2 menjadi satu

Rekan-rekan sedang bercengkrama
Anak-anak menyalami kami satu persatu
Antusias anak-anak disana sangat tinggi untuk mrnyambut kami
Setelah proses pengepackan selesai kami pun mengitung jumlah tas yang didalamnya sudah terdapat peralatan alat tuli menulis. Setelah dihitung dan ternyata memang pas sesuai barang yang telah dibawa kami pun segera menikmati makan siang yang memang sudah disediakan oleh Ibu Eneng dan warga sekitar. Masakan khas pedesaan memang mantap dengan sambel yang begitu menggoda mulut kami pun menyatap makanannya dengan lahap.
Makanan Santap Siang dengan sambelnya yang khas

Rekan-rekan makan siang dengan lahapnya
Selesai makan siang begitu juga waktu menunjukkan jam setengah 2 kami pun segera memulai acaranya. Acara dimulai dengan sambutan dari Kepala Desa Lebak Sangka yang sangat terbuka kepada kami walaupun seminggu sebelumnya sempat khawatir terhadap kami dikarenakan kami dicurigai ada tujuan tertentu dalam kegiatan ini seperti halnya yang diberitakan media seperti GAFATAR. Setelah semua dijelaskan oleh pentolan Serdadu Cahaya yaitu Om Andi dan Om Denny akhirnya pun Kepala Desa mengerti dan memperbolehkan kami melakukan kegiatan ini. Inti dari sambutan Kepala Desa, dia sangat berterima kasih sekali karena telah peduli dengan masyarakat disini terutama anak-anak yang masih harus banyak menuntut ilmu dimana merekalah generasi bangsa negeri ini. Setelah sambutan oleh Kepala Desa selanjutnya sambutan dilakukan oleh pentolan Serdadu Cahaya yaitu Om Arief. Dia pun berterima kasih sekali karena kami telah diterima dengan senang hati oleh masyarakat untuk menyampaikan amanat para donatur untuk disalurkan. Selanjutnya menyerahkan barang bawaan secara simbolis yang dilakukan Om Arief dengan menyerahkannya kepada Kepala Desa.
Sambutan dari Kepala Desa
Sambutan dari pentolan Serdadu Cahaya
Penyerahan secara simbolis
Acara selanjutnya yaitu pembagian perlengkapan sekolah yang terdiri dari tas, buku tulis dan alat-alat tulis kepada 68 santri yang masih bersekolah. Dana donatur juga digunakan untuk menyantuni 9 santri yang yatim dan pembelian perlengkapan shalat bagi 6 santri yang tidak bersekolah lagi. Pembagian dilakukan dengan memanggil anak satu persatu dan menyerahkannya.  Juga di berikan sejumlah Al-Qur'an dan 50 Juz Amma dan juga buku bacaan islami dari hasil sumbangan para donatur buku, tidak lupa Perjalanan Cahaya membuatkan mereka lemari buku untuk menyimpan semua buku-bukunya.
Penyerahan perlengkapan alat shalat kepada 6 santri
Penyantunan kepada 9 anak yatim
Penyerahan perlengkapan tas, buku dan alat-atal tulis kepada 68 santri.
Lemari buku yang berisi Al Quran, Juz Amma, dan buku bacaan islami
Tentang Ibu Eneng
Semangat berbagi ibu ini patut kiranya di jadikan tauladan, beliau hanya seorang petani yang dengan usaha dan kerja kerasnya mampu membangunkan sebuah bangunan tempat mengaji/kobong, tempat belajar bagi anak-anak kampung Lebaksangka di tanah miliknya. Tidak sampai disitu saja, ibu ini sama sekali tidak mengenakan biaya kepada 75 santri-santri nya yang belajar di tempatnya, ... Mari kita berhenti sejenak untuk coba merefleksikan apa yang telah Ustazah Eneng ini lakukan kepada diri kita masing2. Kagum ... Membayangkan di tengah tekanan ekonomi yg pas-pasan sebagai petani si ibu masih sempat memikirkan pendidikan gratis bagi kampungnya, bisa saja si ibu menarik uang iuran dengan alasan menutupi biaya operasional atau pengembangan gedung dll, tapi itu tidak dilakukan oleh si ibu ini, semoga ada hikmah yang bisa ditauladani dari apa yang telah dilakukan oleh ibu petani ini.

Tentang Kobong
Ruangan madrasah berukuran 4x7 meter ini pada mulanya tanpa eternit, dinding nya rapuh termakan usia dan lembab, hanya papan tulis kecil untuk alat ajar mengajar dan hanya beberapa buku yg ada, tanpa karpet untuk alas duduk sekitar 75 santri, jadi para santri jika mengaji dan belajar duduk di lapisan semen yg dingin ditambah cuaca di desa yang juga dingin membuat tidak nyaman suasana belajar mereka, terlebih usia mereka yang masih dini ( 5-15 th) membuat miris hati bagi yang melihatnya.
Walaupun dengan sarana dan prasarana yang seadanya, semangat belajar dan mengaji anak2 di desa ini sangatlah kuat, ini yang mengetuk hati kami untuk mengadakan renovasi tempat belajar dan mengaji mereka, sebagai bentuk apresiasi semangat belajar mereka yang tinggi juga mengapresiasikan perjuangan sang ustazah yg sudah berjuang membangunkan sebuah tempat belajar dan mengaji gratis bagi masyarakat desanya.
Dikutip dari Om Arief

Pengerjaan renovasi kobong ini telah dilakukan seminggu sebelum hari H dimana tim serdadu cahaya datang dan membelikan bahan-bahan bangunan untuk keperluan renovasi kobong ini.
Ibu Eneng dengan santri-santrinya
Kondisi ruangan sebelum renovasi
Kondisi ruangan sesudah renovasi
Kondisi jendela sebelum renovasi
Kondisi jendela setelah diperbaiki dan hanya tinggal dicat saja dinding luarnya
Setelah acara selesai seperi biasa rekan-rekan ada yang mengobrol, ada yang bernasis ria di lokasi dan ada juga yang berfoto bersama gadis kecil yang imut dan cantik.
Foto-foto cantik dulu...

Juru Foto lagi beraksi

Foto bareng anak-anak
Ternyata Si mbah diem-diem nih fotonya...ckck
Om Denny juga narsis juga bareng si imut
Setelah selesai semuanya kami pun bergegas menujua Balai Desa dimana tempat kita bermalam nanti. Disana kita tidak lupa foto berkeluarga dulu karena banyak teman-teman yang akan pulang dan tidak bermalam disini.
Foto Keluarga Serdadu Cahaya
Jones Bond's
Para Pentolan Serdadu Cahaya
Kami pun melepas teman-teman yang akan pulang, dan selanjutnya Om Andi mengajak kami untuk mandi dari sungai yang katanya sih tidak jauh dari Balai Desa. Kami terus bersiap-siap membawa baju ganti dan peralatan mandi. Teman-teman pergi duluan dengan berjalan kaki dan tidak mau naik motor dikarenakan jalannya turunan tajam dengan jalan kecil dan berbatu. Ini yang membuat saya penasaran dengan Mbah Suyut dan rekan yang lainnya karena ingin mencoba melewatinya dengan motor. Akhirnya pun kami memutar gas untuk melewatinya dan ternyata memang wow turunannya tapi tak membuat hati gentar untuk mumdur. Kami pun melewatinya dan ditengah jalan kami pun berhenti untuk melihat keasrian pedesaan. Dan tiba-tiba ada dua nenek datang dari bawah dan bertanya kepada kami "Rek kemana Jang" kami pun menjawab "Mau ke sungai Bu" lalu nenek itu menyalami kami. Selesai foto-foto kami pun segera menuju sungai dimana terdapat sebuah jembatan yang sudah rusak dengan kayu-kayunya yang mulai lapuk. Kami pun memarkir kendaraan di dekat sana dimana sudah ada motor teman-teman yang sampai duluan.
Kearifan warga lokal
Kebo merah foto bareng Bishop
Jembatan yang mulai rapuh
Parkir dekat jembatan
Melihat air disungai ini membuat kami ingin segera menceburkan diri kedalamnya. Kami pun turun melewati pematang sawah dan turun menuju sungai yang berada dibawah jembatan. Air sungai yang segar ini membuat kami ingin berlama-lama disini. Tak afdol rasanya bila kita tidak berfoto-foto disini. Kami pun main lompat2an seakan kita masih anak-anak..hehe dan teman-teman yang lainnya juga ada yang ngopi sambil menikmati segarnya air disungai ini.
Gaya Superman
Jungkir Balik Man
Para serdadu lagi ngojai
Mari Ngopi Masbro
Gosok terus sampe lecet...hehe
Sudah habis bersihin badan disungai kami pun segera naik menuju Balai Desa karena memang waktunya sudah hampir maghrib dengan gerimis mengundang. Sementara Um Wanto dan Igun kembali pulang dengan meneruskan jalan sehabis jembatan yang katanya wow banget deh. Jalanan yang becek karena hujan gerimis membuat kami susah untuk menaiki tanjakan dan beberapa kali ban pun ngesot. Dengan susah payah akhirnya pun kami mulai sampai ke Balai Desa dengan nafas yang ngos-ngosan karena menahan motor dan menyeimbangkan motor pada saat tanjakan tadi.

Selesai maghrib kami pun sudah disuguhkan hidangan makan malam oleh Ibu Eneng dan warga. Dengan beralaskan daun pisang kami pun mulai menyantap makan malam ini dengan lahap. Hampir semua lauk pauk habis kami makan. Makan malam seperti ini memang syahdu banget walaupun makan dengan seadanya tapi aroma kebersamaan sangat kental terasa. Indah bener pokoknya...
Makan malam yang indah dengan aroma kebersamaan yang kental
Para Ladies lahap juga ya makannya..hehe
Makan malam pun sudah, kami pun membereskan sisa-sisa makanan tadi dan membuangnya. Dilanjutkan dengan ngopi2 santai bersama teman-teman dengan membahas rencana apa ke depannya dan membicarakan masalah solar cell dan energi terbaru yang mudah diterapkan nanti. Dan waktu itu Om Yasin yang membuat kami tertawa dan tersenyum atas hasil risetnya...Salute deh sama Om Yasin atas inovasinya dan semoga terus berkembang ya Om..hehe.

Waktu tak terasa udah jam 9 malam, rekan-rekan tampaknya sudah tidur pulas di dalam Balai Desa dan saya pun mendirikan tenda diluar sambil menikmati kopi bersama teman yang lainnya. Jam 10'an terlihat lampu terang menuju arah Balai Desa ternyata ada 2 rekan yang datang. Mereka ini baru pertama kali mengikuti kegiatan ini dan mereka pun membawa barang yag ingin disumbangkan. Mereka tahu kegiatan ini dari sosial media yang kebetulan memang kita sering share dengan teman-teman yang lainnya melalui media sosial.

Mata pun mulai lelah dan waktu menunjukkan pukul 11 malam. aku pun masuk kedalam tenda dimana sudah ada Mang Rei yang tertidur pulas. Jam 12 pun aku terbangun karena mendengar suara orang yang datang dan itu ternyata si Nugraha yang datang. Ternyata dia sempat kesasar disini dan meminta bantuan tukang ojek untuk diantar kesini. Disini memang tak ada sinyal untuk berkomunikasi dengan yang lainnya dan hanya bermodalkan kordinat untuk menyampai kesini. Kemudian saya melanjutkan tidur kembali dan si Nugraha tampaknya sedang mengobrol dengan Om Yasin yang memang berada diluar.

Jam setengah 6 saya pun terbangun dan melihat rekan-rekan sudah berjalan-jalan ria melihat suasana desa. Saya pun membuat air panas untuk membuat secangkir kopi karena memang suasana pagi ini dingin sekali. Sambil mengobrol bersama yang lain kami pun menikmati gorengan yang diborong oleh Om Arief. Tak terasa waktu menunjukkan jam 8 pagi ternyata kami pun sudah dibuatkan sarapan pagi. Kami pun segera bergegas menuju kobong dan menikmati sarapan pagi ini. Perut sudah terisi dan kami pun segera berbenah untuk mempersiapkan menuju pulang ke rumah. Jam 11 siang kami pun mulai memutar gas untuk turun dan melanjutkan perjalanan menuju rumah masing-masing. Sampai di Indomaret ternyata ada sebagian rekan-rekan yang ingin mengunjungi Situs Lebak Cibedug. Disini pun kami berpisah dan saya bersama rekan-rekan yang lain pulang duluan menuju rumah masing-masing.

Perjalanan Cahaya mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur dan riders yang terlibat dalam Ekspedisi Lebaksangka Banten ini, semoga segala usaha dan upaya mendapatkan rahmat dan barokah ... Amin.

Video Perjalanan Cahaya Ekspedisi Lebak Sangka


#Spread_the_Spirit_of_Sharing
#PerjalananCahaya
#SerdaduCahaya
www.kartala.org
Previous
Next Post »